Adi Husada Cancer Center

Kenapa Kanker Rongga Mulut Sering Terlambat Terdeteksi?

Kanker rongga mulut adalah salah satu jenis kanker yang sebetulnya dapat dideteksi lebih awal dibanding jenis lainnya, karena letaknya mudah dijangkau dan dapat dilihat langsung. Namun, ironi terbesar adalah bahwa penyakit ini justru sangat sering terdeteksi pada stadium lanjut. Kenapa hal ini bisa terjadi? Artikel ini membahas penyebab utama keterlambatan diagnosis kanker rongga mulut berdasarkan berbagai penelitian ilmiah terkini.

1. Kurangnya Pengetahuan Masyarakat tentang Gejala Awal

Sebagian besar pasien tidak menyadari bahwa gejala awal seperti bercak putih (leukoplakia), bercak merah (eritroplakia), atau luka di mulut yang tak kunjung sembuh selama lebih dari dua minggu adalah tanda bahaya. Banyak yang mengira itu hanya sariawan biasa atau iritasi makanan.

Sebuah studi oleh González-Moles et al (2022) dalam jurnal Cancers (MDPI) menyebutkan bahwa ketidaktahuan masyarakat terhadap tanda awal kanker rongga mulut adalah penyebab keterlambatan paling signifikan. Ketika tanda-tanda itu mulai terasa mengganggu atau menyakitkan, kanker sering kali sudah berada di stadium lanjut.

2. Gejalanya Tidak Nyeri dan Tidak Mengganggu

Salah satu ciri khas kanker rongga mulut di tahap awal adalah sifatnya yang asimptomatik alias tanpa rasa sakit. Lesi awal tidak menimbulkan nyeri, pembengkakan, atau keluhan berarti. Hal ini membuat banyak orang menunda periksa ke dokter, karena tidak merasa ada yang salah secara fisik.

Menurut ulasan sistematis di PMC (2021), gejala tanpa rasa sakit adalah jebakan terbesar dalam diagnosis kanker mulut karena pasien cenderung menunggu sampai muncul rasa nyeri, padahal itu pertanda sudah cukup lanjut.

3. Ketakutan atau Penyangkalan (Denial)

Ketakutan terhadap kemungkinan diagnosis kanker adalah alasan lain keterlambatan. Banyak pasien merasa takut akan hasil pemeriksaan, atau merasa tidak siap secara mental untuk menerima diagnosis serius. Dalam beberapa kasus, pasien bahkan memilih tidak datang lagi setelah pemeriksaan awal yang mencurigakan.

Dalam studi oleh Frontiers in Psychology (2022), ditemukan bahwa aspek psikologis seperti rasa takut, kecemasan, dan sikap menghindar menjadi penghambat utama pasien dalam mencari bantuan lebih awal.

4. Faktor Sosial, Ekonomi, dan Akses Kesehatan

Tingkat pendidikan, pendapatan, dan lokasi geografis berperan besar dalam keterlambatan diagnosis. Pasien di daerah terpencil atau berpendidikan rendah cenderung tidak memahami urgensi pemeriksaan dini atau tidak tahu harus ke mana saat mengalami keluhan.

Studi prospektif oleh Mishra et al (2024) dalam PubMed mencatat bahwa rata-rata keterlambatan total dari munculnya gejala hingga diagnosis pada pasien kanker rongga mulut adalah 106 hari, di mana keterlambatan dari sisi pasien (patient delay) mencapai 90 hari.

5. Keterlambatan di Tingkat Profesional Medis

Keterlambatan tidak selalu berasal dari pasien. Dalam banyak kasus, dokter umum atau dokter gigi pertama yang ditemui pasien tidak segera mencurigai kanker. Lesi sering didiagnosis sebagai sariawan, infeksi jamur, atau luka biasa. Rujukan ke spesialis pun bisa tertunda hingga beberapa minggu atau bulan.

Studi dalam jurnal PLOS ONE (2022) menunjukkan bahwa hampir 30% keterlambatan terjadi karena keterlambatan dari sisi tenaga kesehatan, baik karena salah diagnosa atau lambat dalam melakukan biopsi.

6. Akses Terbatas ke Pemeriksaan Lanjutan

Kanker rongga mulut memerlukan konfirmasi diagnosis melalui prosedur seperti biopsi. Namun tidak semua fasilitas kesehatan memiliki alat dan tenaga untuk melakukan biopsi atau visual enhancement tools seperti VELscope. Akibatnya, rujukan ke rumah sakit besar sering memakan waktu dan memperpanjang proses diagnosis.

Hal ini terutama dialami pasien di negara berkembang atau daerah pedesaan, sebagaimana dilaporkan dalam studi dari British Dental Journal (2022) yang mencatat keterbatasan sistem rujukan di wilayah luar kota.

7. Kanker Sering Sudah Menyebar Saat Diketahui

Lebih dari 50% kasus kanker rongga mulut ditemukan pada stadium III atau IV, yang berarti tumor sudah besar dan menyebar ke kelenjar getah bening regional. Prognosis atau peluang sembuh sangat menurun jika sudah pada tahap ini.

Menurut review di jurnal Cancers, angka harapan hidup 5 tahun pada pasien yang didiagnosis di stadium awal bisa mencapai >90%, tapi jika terlambat bisa turun drastis menjadi 5–20%.

Kesimpulan: Keterlambatan Itu Nyata dan Bisa Dicegah

Keterlambatan diagnosis kanker rongga mulut adalah masalah serius dan nyata. Penyebabnya multifaktor: kurangnya edukasi, minimnya gejala di awal, rasa takut, hingga keterbatasan sistem kesehatan. Tapi hal ini bisa dicegah. Kampanye kesadaran publik, pelatihan dokter gigi dan umum, serta peningkatan akses ke pemeriksaan lanjutan adalah kunci.

Jika kamu atau orang di sekitarmu mengalami luka di mulut, bercak putih atau merah, atau gejala tak biasa yang bertahan lebih dari dua minggu—jangan tunggu! Segera periksa ke dokter. Lebih baik diperiksa dan ternyata tidak berbahaya, daripada terlambat dan menyesal.

Referensi Ilmiah